Pesan yang amat kuat dapat ditangkap dalam upaya pembangunan kualitas manusia yang lebih dikenal dengan MDGs (Millennium Development Goals) yakni pentingnya peningkatan kapabilitas seseorang atau sekelompok orang baik laki-laki maupun perempuan untuk pencapaian kehidupan yang lebih bermutu dan bermartabat. Peningkatan kualitas manusia tersebut dilakukan dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan, pendidikan dan air bersih dan sanitasi, yang harus ditempatkan dalam prioritas untuk kapabilitas masyarakat yang tidak mampu.
Pada konteks itu, persoalan ironis atas akses air bersih adalah ‘cost of water, ’ketika kaum miskin justru harus membayar 5 kali lipat dibanding si kaya. Persoalan utamanya - terutama bagi mereka yang diperkotaan (urban) - adalah tidak tersedianya koneksi dan akses (baik ke PDAM ataupun alternatif sistem air perpipaan lainnya). Secara umum hal tersebut menyangkut kurangnya investasi, terbatasnya sumber air baku, buruknya management (perilaku korup) dan beberapa isu sosial-politis dan sosial lainnya. Pertanyaannya, apa yang dapat dilakukan ketika melihat begitu sempitnya diakses kaum miskin atas air bersih dan sehat. Tudingan dan kritik atas lemahnya jangkauan dan kualitas layanan PDAM ditambah kenyataan bahwa banyak kaum miskin tinggal di pemukiman illegal (yang sulit difasilitasi PDAM).
Lemahnya kebijakan dan perlindungan sosial, akhirnya kaum miskin terpaksa berhadapan dengan ‘vendors’ yang mensuplai secara mahal kebutuhan dasar tersebut. Biaya tinggi tersebut tidak sebanding dengan kualitas dan kuantitas air (serta sanitasi) minimum penerima jasa ‘mafia air’ tersebut. Sementara mereka tetap rentan dan jauh masih dari perilaku sehat dan bersih. Selain itu, upaya dan isu yg tidak kalah kontroversial adalah “Socialize tarrif”, termasuk peningkatan kapasitas berbagai PDAM. Tantangannya kemudian, seperti yang telah terungkap di Formative Research ESP (2006), konsumen lebih mempermasalahkan ‘kenapa harus bayar, bila service-nya buruk’ (mereka cenderung tidak mempersoalkan biaya yg harus dibayarkan, bila pelayanan yang diberikan memuaskan). Dengan kata lain, isu mendasar yang sering dijumpai: bagaimana korelasi ‘reasonable tariff’ versus ‘reasonable services’ yang layak.
Di Indonesia, berdasarkan data Departemen Kesehatan RI, setiap 1,000 bayi lahir, 50 orang meninggal yang salah satu sebab utamanya adalah diare. Ini sering disebabkan oleh sumber air yang tercemar kotoran manusia. Pada konteks global, di dunia setiap tahun sekitar 1,6 juta anak mati karena diare, setara dengan satu anak setiap detiknya (UNICEF).
USAID / ESP berharap dapat memperluas kemitraan dan dukungan advokasi secara intens untuk akses air dan sanitasi yang lebih baik untuk mengurangi angka kejadian diare pada balita. Dalam dukungan ini USAID/ESP bersama TEMPO Media Group bermaksud mengajak media / jurnalis mendiskusikan isu kontroversial seputar isu air bagi masyarakat miskin. Dengan ini diharapkan penguatan pesan atas isu ini terus terjaga di tengah kompleksitas persoalan sosial ekonomi masyarakat saat ini, dengan mengetengahkan beberapa praktik-praktik terbaik sebagai upaya kontribusi solusi atas persoalan ini.
MATERI TERKAIT KOMUNIKASI STRATEGIS