Case Studies

DATE: Jun 5, 2009

Yogyakarta. Kampung Darakan yang terletak di Kelurahan Prenggan, Kecamatan Kota Gede, Yogyakarta termasuk dalam wilayah daerah aliran Sungai Gadjah Wong. Profesi warga kampung ini cukup beragam, sebagian besar menjadi buruh, ada yang menjadi pegawai kantoran, atau perajin perak, karena sejak dulu Kota Gede memang dikenal sebagai pusat kerajinan perak Yogyakarta.

IPAL bersama Warga Darakan bahu-membahu membangun jaringan IPAL ke rumah mereka untuk meningkatkan kondisi sanitasi di sana [<br /> Oni Hartono]Untuk menunjang program kali bersih, tahun 2005 Pemerintah Kota Yogyakarta membangun sarana Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal Kota Gede yang terletak di wilayah RW13/RT 57. Di RW ini, awalnya IPAL dibangun untuk melayani 100 kepala keluarga, tapi faktanya, hanya 12 keluarga yang memanfaatkan sarana sanitasi tersebut.

Pada tahun 2008, ESP bekerjasama dengan Lembaga Studi Tata Mandiri (Lestari) memberikan penguatan kapasitas kepada masyarakat di Kampung Darakan, terkait dengan program optimalisasi pemanfaatan IPAL komunal. Serangkaian kegiatan telah dilakukan hingga akhirnya dilakukan aksi rintisan penyambungan pipa dari rumah ke jaringan perpipaan air limbah. Masyarakat akhirnya tergerak setelah memahami hubungan antara pencemaran air tanah akibat limbah rumah tangga yang tidak dikelola dengan baik dengan pola hidup bersih.

Untuk mengelola IPAL, masyarakat membentuk sebuah kelompok sebagai wadah bergotong-royong untuk pemasangan dan penyambungan pipa dari rumah ke rumah. Warga berinisiatif menggunakan ember bekas cat untuk dijadikan bak kontrol, mereka juga membuat alat penyaring yang dipasang di setiap ujung pipa yang masuk ke bak kontrol untuk menghindari kotoran padat yang masuk ke saluran pipa.

Karena keterbatasan dana, kelompok ini pun berinisiatif untuk mendapatkan bantuan dari pihak lain. Seorang pengusaha kerajinan perak memberikan pinjaman Rp 15 juta yang harus dikembalikan warga dengan mencicil. Dana tersebut digunakan untuk membeli dan memasang pipa cabang, bak kontrol dan sambungan rumah. Setiap satu bulan sekali, pengurus IPAL mengadakan pertemuan membahas hal-hal yang berhubungan dengan pengelolaan IPAL, termasuk menetapkan iuran Rp 10.000 per keluarga pengguna. Selain untuk menutup biaya operasional, iuran itu juga dipakai untuk membayar pinjaman kepada pengusaha perak tadi.

Budi Yuwono, Dirjen Cipta Karya yang berkunjung ke Darakan pada tanggal 20 Februari 2009, tak dapat menyembunyikan kekagumannya terhadap jerih payah warga Darakan dan Lestari ini. Apa lagi ketika pengurus IPAL menjelaskan saat ini, fasilitas sanitasi tersebut sudah tersambung ke 37 rumah warga. Dalam wawancara langsung dengan warga, Budi menyampaikan keinginannya untuk mereplikasi program sanitasi sejenis di wilayah lain di Indonesia.

Oni Hartono, ESP YOGYAKARTA & Jawa TENGAH

pixelstats trackingpixel

DATE: Apr 15, 2008

Fact Sheet: Access to Clean Water for the Urban PoorESP and Jaringan Kesehatan Masyarakat, a local non-governmental organization together with Tirtanadi Water Utility provided access to water for more than 600 poor people in Labuhan Deli, Medan.

PDF File PDF File 522 KB

pixelstats trackingpixel

DATE: Apr 15, 2008

Fact Sheet: Access to Clean Water for the Urban PoorESP and Jaringan Kesehatam Masyarakat, a local non-governmental organization together with Tirtanadi Water Utility improved access for 370 households in Kampung Baru and Sei Mati, Medan.

PDF File PDF File 632 KB

pixelstats trackingpixel

DATE: Apr 15, 2008

Fact Sheet: Access to Clean Water for the Urban PoorESP and Suluh Muda, a local non-governmental organization together with Tirtanadi Water Utility and Safe Water System provided an innovative clean water system for 220 poor households in Sunggal.

PDF File PDF File 1.1 MB

pixelstats trackingpixel

For other Case Studies in Bahasa Indonesia, click here