Percaya Diri Berkat Sekolah Tanpa Dinding
Published Date: September 11th, 2009


Medan. Armansah, 30 tahun, adalah warga Desa Timbang Lawan, bahorok, Sumatera Utara, yang terkenal sibuk setiap hari. Dari pagi sampai siang, dia mengajar di sebuah SMP Islam di Bahorok. Sehabis makan siang, dia berladang, di sebuah lahan seluas setengah hektar yang ditanaminya dengan padi, cabai, timun, buncis, bayam dan kangkung.

Meskipun baru berdiri delapan bulan yang lalu, Mekar Bersama sudah berhasil menggandeng sejumlah pihak untuk turut serta menyelamatkan ekosistem Bahorok [Naomi Distrina Ginting]Sejak mengikuti kegiatan Sekolah Lapangan pada Januari 2008, Armansah menjadi lebih sibuk. Malam hari dia kerap berkumpul dengan warga desa lain membahas kegiatan-kegiatan konservasi apa saja yang bisa dilakukan mereka di sekitar desa. Terkadang kegiatan tersebut sederhana saja, seperti mengumpulkan buah-buahan busuk di sekitar rumah untuk dijadikan bahan Mikroorganisme Lokal (MOL) yang membantu menyuburkan tanah dan tanaman.

Sekolah Lapangan memang sedikit banyak mengubah kehidupan Armansah. Teori dan praktik yang dia dapat, memungkinkannya memulai pertanian ramah lingkungan yang mampu mengurangi biaya produksi sampai 50%. Penghematan tersebut terjadi karena Armansah tak lagi menggunakan pupuk kimia. Sebagai gantinya dia membuat kompos untuk menjaga kesuburan tanah ladangnya. Pengetahuannya seputar perlindungan hutan dan lingkungan hidup pun bertambah.

Selain itu, Arman ternyata juga jadi lebih percaya diri. Dia kini menjadi fasilitator desa yang berbagi ilmu dan pengalaman seputar konservasi dan pertanian ekologis kepada siapa saja. Bersama petani lain, Arman membentuk kelompok “Mekar Bersama” yang terdiri dari sembilan kelompok yang berasal dari 5 desa yaitu Sampe Raya, Timbang Jaya, Timbang Lawan, Pekan Bahorok dan Empus.

Meskipun baru berdiri delapan bulan yang lalu, Mekar Bersama sudah berhasil menggandeng sejumlah pihak untuk turut serta menyelamatkan ekosistem Bahorok. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Sumatra Utara baru saja menyumbang 3.500 bibit dalam aksi penanaman pohon. Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara menyumbang satu buah mesin pencacah kompos untuk mendorong pertanian ekologis yang sudah dimulai oleh Mekar Bersama. Sepuluh ekor kelinci dari Departemen Pertanian Universitas Sumatera Utara rencananya juga akan dikembangbiakkan.

Mekar Bersama yang difasilitasi oleh ESP dan Konsorsium LSM lokal bernama Alive, di masa depan bercita-cita menjadikan Bahorok sebuah kawasan wisata yang ramah lingkungan dengan beragam kegiatan konservasi berkelanjutan yang dialukan oleh masyarakat di wilayah itu.

Ridahati Rambey & Naomi Distrina Ginting, ESP Sumatera Utara

pixelstats trackingpixel



PREVIOUS ARTICLES