Bandung. Dalam rangka sosialisasi program Model Desa Konservasi Berbasis Dakwah, Gerakan Nasional Kehutanan Lingkungan Hidup Pengurus Besar Nadhlatul Ulama ( GNKL PBNU) dan ESP mengadakan kegiatan Hari Temu Lapangan dan Dakwah Lingkungan di Desa Cikarae Thoyyibah, Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 30 Mei 2009.
Acara yang dihadiri oleh Bupati Sukabumi Sukmawijaya, warga dan tokoh masyarakat, tersebut diisi sejumlah kegiatan seperti lomba melukis alam tingkat SD dan SMP, lomba perbanyakan tanaman secara vegetatif, dan pameran hasil kerajinan masyarakat.
Keunikan program sosialisasi kali ini adalah dicanangkannya Program Model Desa Konservasi Berbasis Pesantren di desa Cikirai, Cikarae Thoyyibah dan Mekarnangka. Pesantren dianggap menjadi mitra yang tepat karena di desa-desa ini lokasi relatif dekat dengan hutan yang menjadi obyek konservasi. Mereka juga memiliki basis massa berupa ratusan pesantri yang dapat dimobilisasi dalam berbagai kegiatan konservasi.
Pesantren Hidayatul Falah adalah salah satu contohnya. Sejak lebih dari setahun lalu, pesantren ini bekerjasama dengan ESP dan PBNU dalam mengembangkan pembibitan berbasis masyarakat melalui jaringan pengajian yang mereka miliki.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian selama Hari Lapangan ini adalah konsep Sekoci (Sengon, Kambing, Kelinci). Sekoci muncul dari hasil perencanaan peserta Sekolah Lapangan (SL) di tiga desa sebagai alternatif usaha ekonomi kelompok. Dalam Hari Temu Lapangan, tim GNKL PBNU mengangkat Sekoci sebagai salah satu cara mengatasi kerusakan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak, karena tiga unsur utama sekoci mampu memberikan penghasilan jangka pendek, menengah dan panjang kepada para petani.
Contohnya, tanaman sengon dianggap sebagai jawaban terhadap kebutuhan ekonomi jangka panjang karena bisa dipanen setelah 5 tahun, kambing dapat menghasilkan pendapatan sepanjang tahun dan kelinci bisa menjadi sumber pendapatan alternatif bulanan. Dengan adanya sumber ekonomi berkelanjutan ini, tekanan terhadap kawasan konservasi TNGHS juga berkurang drastis.
Saat ini, sekitar 20.000 bibit pohon sengon sudah ditanam untuk merehabilitasi lahan seluas 40 hektar di Cikirai, Cikarae Thoyyibah dan Mekarnangka, melengkapi 50.000 bibit yang sudah ditanam sebelumnya oleh kelompok-kelompok petani di desa-desa yang sama.
Idham Arsyad, ESP Jakarta