Rumah Kompos Solusi Pengelolaan Limbah Rumah Tangga
Published Date: September 11th, 2009


Malang. Sampah dan pemuda mungkin adalah dua hal yang sulit dicari hubungannya. Sangat jarang kita lihat pemuda-pemuda yang mau berurusan dengan pengelolaan sampah.

Sampah tak terbuang sia-sia  Berbeda dengan pengomposan biasa, Rumah Kompos menggunakan teknik fermentasi dengan biang kompos buatan sendiri yang disebut  MOL (Mikroorganisme Lokal) [Arief Lukman Hakim]Sebuah perkecualian muncul di Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Batu, Malang, Jawa Timur. Terinspirasi dengan beragam teori dan praktik yang diterima selama Sekolah Lapangan, sejumlah pemuda Bumiaji didampingi Darmanto, angkota Kelompok Tani Bumijaya II tergerak hatinya untuk mencoba ide-ide kreatif untuk memecahkan masalah lingkungan disekitar mereka. Salah ide tersebut terinsipirasi prinsip mengubah tantangan menjadi peluang yaitu membuat kompos dari sampah dan limbah.

Selama ini permasalahan sampah menjadi permasalahan yang kian rumit untuk dipecahkan, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan semakin padatnya pemukiman. Disisi yang lain, pertanian ramah lingkungan menjadi sebuah solusi yang terbukti efektif di sejumlah tempat.

Rencana mereka ternyata mendapat dukungan dari pemerintah desa. Melalui dana ADD (Alokasi Dana Desa), Desa Bumiaji mengalokasikan Rp 13 juta untuk pengolahan sampah. Langkah pertama yang dilakukan Darmanto dari dalam mengarahkan pemuda di desa tersebut adalah dengan membangun rumah kompos.

Berbeda dengan pengomposan biasa, Rumah Kompos menggunakan teknik fermentasi dengan biang kompos buatan sendiri yang disebut MOL (Mikroorganisme Lokal). Semua bahan MOL diramu dari bahan-bahan alamiah yang tidak perlu dibeli. Dengan menggunakan MOL produksi kompos terbukti bisa dipercepat. Dalam 10 hari saja, Rumah Kompos berhasil memproduksi 6 ton kompos. Saat ini saja sudah kewalahan untuk memenuhi permintaan dari petani apel, sayur dan bung hias. Untuk sementara layanan Rumah Kompos masih mengutamakan pada anggota, baru sisanya dijual.

Setelah hampir tiga tahun berdiri, rumah kompos kini sudah dilengkapi sebuah mesin pencacah kompos dan unit produksi pakan ternak. Menurut Darmanto laba bersih rumah kompos sekitar Rp 1 juta per bulan. Keuntungan tersebut sudah dikurangi biaya air, bahan bakar dan tenaga kerja. Meskipun dengan peralatan seadanya rumah kompos ini mampu menyerap sekitar 5 tenaga kerja per hari. ”Lumayan untuk penghasilan pemuda putus sekolah” tambah Darmanto.

Arief Lukman Hakim, ESP Jawa Timur

pixelstats trackingpixel



PREVIOUS ARTICLES