Jakarta. Program penyediaan air bersih (PAB) di RT 05 dan RT 06, RW04, Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora Jakarta Barat, boleh dibilang menjadi berkah tersendiri bagi para penggunanya.
Program hasil kerja sama ESP dengan salah satu perusahaan air swasta di DKI Jakarta yaitu PT. PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) dan LSM PPKM (Perhimpunan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat), ini setidaknya telah membantu sekitar 38 keluarga kurang mampu keluar dari masalah kesulitan air bersih.
Program penyediaan air bersih dengan sistem master meter ini merupakan yang pertama kali diadakan di DKI Jakarta yang memungkinkan akses layanan air bersih hadir di lokasi yang status kepemilikan lahannya masih bermasalah. Melalui satu meter induk, air disambungkan dengan pipa ke rumah-rumah dengan pemakaian air tercatat pada meter kecil di tiap rumah.
PAB Jembatan Besi dilaksanakan melalui program dana hibah kecil ESP dengan total biaya Rp. 250 juta untuk pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas masyarakat. Selain bantuan ESP tersebut, PT PALYJA dan masyarakat juga memberikan kontribusi dalam pembangunan sistem ini.
PALYJA menyumbang perpipaan dari jaringan utama sampai ke meter air dengan nilai sekitar Rp.100 juta, sedang warga penerima air bersih diwajibkan menyiapkan meter kecil pipa air masing-masing.
Siti Rohana, 43 tahun, mengaku tak pernah membayangkan air ledeng bisa mengalir di rumahnya setdapat ia peroleh setiap saat.
Padahal sebelumnya, Anah, panggilan akrab Siti Rohana, selalu direpotkan oleh urusan air bersih. Setiap pagi atau sore hari, ia harus mendorong gerobak dari WC umum yang berjarak beberapa puluh meter dari rumahnya.
“Saya nyelang air dari WC umum. Satu jerigen harganya Rp500, ya dorong sendiri. Kadang saya, kadang bapaknya atau nyuruh anak-anak. Sehari habis 5-6 jerigen, dipakai untuk masak dan memandikan anak-anak. Kalau cuci pakaian di sumur, seberang rel kereta. Dari sini lumayan jauh, sih,” tutur Bu Anah.
Bagi keluarga Anah, berlangganan air PAM bukan hal yang mudah. Maklum, ia dan 25 keluarga pengguna PAB lainnya yang ada di RT 06, termasuk keluarga kurang beruntung. Suaminya, Junaidi, bekerja sebagai tukang bangunan.
“Bapak kerjanya nukang. Hasilnya nggak tentu, tempo-tempo ada kerjaan, tempo nganggur. Keluarga saya banyak, anak-anak masih pada sekolah. Mana sanggup pasang PAM?” kata ibu 12 anak dan empat cucu yang tinggal di rumah berukuran 4 x 4 meter di sebuah gang kecil di Jembatan Besi.
Menurut penuturan Bu Anah, dengan adanya program PAB dari ESP, keluarganya benar-benar merasa terbantu. “Kalau mau masak, nyuci atau mandiin anak-anak nggak repot lagi. Kapan saja butuh, air bersih tersedia. Sekarang nggak capek dorong gerobak atau nyuci ke sumur lagi. Bayarnya sama, paling banyak, Rp 50.000 sebulan,” kata Bu Anah lega.
Abdul Samad, PPKM