Gantung Senjata, Angkat Pacul
Published Date: September 11th, 2009


Banda Aceh. Penandatangan nota kesepakatan damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Indonesia pada 15 Agustus 2005 menyisakan cerita pahit bagi para eks-kombatan GAM. Sebagian besar dari mereka tidak mempunyai pekerjaan tetap dan terpaksa bekerja serabutan untuk menyambung hidup keluarga.

Gairah kakao Masri sedang memberi pelatihan bertani kakao yang benar kepada sebuah komunitas di Aceh [Hendra Syahrial]Masri MD, 35 tahun, adalah salah satunya. Warga Desa Pantee Kuyun, Aceh Jaya ini menjadi supir truk dengan penghasilan yang tak seberapa. Salah satu nasabahnya adalah ESP Aceh yang satu hari di akhir 2008 meminta Masri mengantarkan bibit-bibit kakao untuk ditanam anggota Forum Peduli Krueng Lageuen, kelompok masyarakat penggiat kegiatan konservasi di area seputar Sungai Krueng Lageuen.

”Sambil melihat bibit-bibit kakao diangkut warga dari truk ke area tanam, saya mulai berpikir. Sepertinya tidak ada salahnya kalau saya mencoba menanam kakao di pekarangan rumah. Kalau panen, kan, saya dapat penghasilan tambahan,” kata Masri.

Sisa-sisa bibit yang tak terangkut warga, akhirnya disimpannya dan ditanam di pekarangan rumah. Kegiatan menanam bibit kakao ternyata membuat hari-hari Masri menjadi lebih sibuk. Staf ESP yang berkunjung ke Pantee Kuyun pun terkesan dengan keseriusan Masri mengurus bibit-bibit kakaonya dan memberinya 300 bibit tambahan.

”Dia sadar tak punya pengetahuan cukup dalam bercocok tanam. Yang dia lakukan agar bibit-bibit kakao itu tetap tumbuh adalah menyiram dan memberi pupuk secara rutin,” kata staf ESP tersebut.

Agar Masri, dan warga Pantee Kuyun lain, mendapat ilmu bertanam kakao yang memadai, ESP mengirimnya mengikuti pelatihan dan studi banding ke perkebunan kakao di Medan pada Februari 2009. ”Saya belajar banyak,” kenang Masri, ”dari cara-cara perbanyakan tanaman sampai membuat pupuk kompos dan mengendalikan hama dengan pestisida alami.”

Sekarang, Masri dipercaya menjadi ketua Kelompok Petani Kakao Pelopor Aceh Jaya yang beranggotakan 10 orang petani dari beberapa wilayah di Aceh Jaya. Paling tidak 10 hari dalam sebulan, anggota Kelompok Pelopor diundang oleh LSM, lembaga donor, kantor pemerintah atau institusi akademik di berbagai wilayah di Aceh untuk memberi pelatihan seputar cara bercocok tanam kakao. Bibit-bibit kakao di pekarangan Masri sudah tumbuh subur, meski masih butuh setahun lagi untuk dipanen.

”Karena sibuk memberi pelatihan, saya hampir tak ada waktu mengurus kebun kakao saya. Tetapi saya senang, karena ilmu yang saya miliki bisa dibagi kepada orang lain,” kata Masri.

Hendra Syahrial, ESP Aceh

pixelstats trackingpixel



PREVIOUS ARTICLES