Jakarta. Daerah Pulo Kandang berlokasi dekat dengan sebuah pusat perbelanjaan di wilayah pemukiman kelas atas di Kelurahan Kelapa Gading Barat, Jakarta. Wilayah ini dihuni 750 keluarga yang sebagian besar berprofesi sebagai pemulung dan pekerja sektor-sektor informal lainnya. Komunitas ini tinggal di atas rawa di area yang terbilang padat. Semua rumah dibangun memakai bahan-bahan bekas seperti kayu, besi, bambu dan karton. Komunitas Pulo Kandang mendapat pendampingan dari Watsan Action/Yayasan Lestari sejak 2004 untuk bidang pendidikan dan pembangunan kapasitas untuk meningkatkan kondisi sanitasi dan ketersediaan air di wilayah ini.
Untuk memenuhi permintaan Watsan Action, ESP memperkenalkan pendekatan Sekolah Lapangan (SL) di dua wilayah kumuh yaitu Pulo Kandang dan Bintaro Lama. Sekolah Lapangan telah terbukti menjadi sarana yang efektif untuk membangun keberlangsungan rencana aksi masyarakat di wilayah hilir sungai.
Program SL rintisan di wilayah perkotaan ini memanfaatkan isu kesehatan dan kebersihan sebagai pintu masuk untuk membantu pemahaman semua materi dan proses SL. Kesehatan dan kebersihan juga dipakai karena kedua isu tersebut dekat dengan kehidupan sehari-hari warga Pulo Kandang. Pelatihan 14 sesi tersebut dimulai dengan pengenalan materi “Siklus Perpindahan Kuman” diikuti dengan identifikasi masalah, pemetaan komunitas, pengumpulan data lapangan, pemotretan, kalender musim, pemetaan kapasitas institusional, analisis tren, analisis lima modal, dan analisis jembatan bambu. Sesi-sesi pelatihan tersebut diakhiri dengan pembuatan rencana aksi masyarakat.
Setelah menyelesaikan 14 sesi SL, warga Pulo Kandang merayakan “kelulusan” 16 peserta Sekolah Lapangan pada tanggal 16 Mei melalui kegiatan Hari Lapangan. Dengan rasa bangga sebagai lulusan SL, partisipan yang semua perempuan menyiapkan sendiri keseluruhan acara mulai dari membuat poster presentasi sampai mendekorasi lokasi acara yang terletak di pinggiran jalan kecil yang ramai, bersebelahan dengan Kali Sunter.
Acara ini juga dimanfaatkan para peserta SL sebagai momentum untuk menyosialisasikan materi dan hasil pelatihan kepada warga lain di wilayah tersebut, termasuk kader posyandu, tokoh masyarakat lokal, perwakilan RT/RW, mitra LSM, guru-guru dan staf klinik kesehatan. “Setelah melakukan pengumpulan data lapangan, saya sadar kami memiliki banyak masalah lingkungan hidup, terutama sanitasi, air bersih dan persampahan. Semua sampah dan kotoran manusia yang dibuang ke rawa di belakang mengalir kembali ke halaman kami,” kata Hadriyah, salah satu lulusan Sekolah Lapangan.
Peserta SL juga mempresentasikan sketsa peta yang menggambarkan situasi lapangan lengkap dengan fasilitas sanitasi umum yang ada seperti toilet umum, tempat sampah dan sumber air tanah lengkap dengan foto-foto pendukung. “Kotoran manusia mengandung banyak bakteri dan melalui air yang terkontaminasi, lalat dan tangan, bakteri-bakteri tersebut berpindah ke tubuh manusia yang menyebabkan timbulnya diare,” kata Iin, sambil memegang diagram “Siklus Perpindahan Kuman” di hadapan undangan Hari Lapangan.
Untuk mengatasi masalah sanitasi di atas, peserta SL membuat rencana aksi masyarakat. Rencana tersebut menunjukkan keinginan para peserta SL untuk mengubah kondisi lingkungan mereka menjadi lebih sehat dan bersih. Di antara program yang mereka rencanakan adalah tujuh aksi utama: kegiatan perubahan perilaku, peningkatan jumlah bak sampah dan fasilitas sanitasi komunal, pelatihan penanganan sampah berbasis masyarakat, penyaringan air, pembersihan selokan dan pemeliharaan kali.
Sebelum Hari Lapangan, peserta SL telah berhasil melaksanakan dua dari tujuh rencana tersebut, termasuk promosi perubahan perilaku melalui kampanye cuci tangan pakai sabun kepada 80 perempuan dan anak-anak dan pembuatan 8 unit penyaringan air yang digunakan 19 rumah, dengan 10 unit lainnya dalam tahap pembuatan. Sehingga, ketika Hari Lapangan tiba, para lulusan SL sudah mampu menunjukkan filter kreasi mereka kepada para undangan dan menjelaskan cara kerja alat sekaligus mendemonstrasikan cuci tangan pakai sabun yang benar.
H. Miftah, pemuka agama sekaligus pendiri dan ketua Yayasan Islam Al Hikmah, yang mesjidnya sering digunakan sebagai tempat SL, sangat terkesan dengan kemampuan peserta perempuan menjelaskan semua proses SL dengan jelas. ”Saya tidak bisa membayangkan sampai hari perempuan-perempuan yang biasanya pemalu dan pendiam ini dapat bicara di depan umum untuk menjelaskan kondisi lingkungan di sini sekaligus cara-cara memperbaikinya,” katanya. “Kita harus membantu usaha mereka dan pemerintah daerah harus mau bekerjasama dengan kita dan perempuan-perempuan ini untuk membuat rencana-rencana tersebut menjadin aksi nyata,” tambahnya.
Di akhir Hari Lapangan, para lulusan Sekolah Lapangan membaca puisi dan bernyanyi lagu “Cuci Tangan Pakai Sabun.” Acara ini berhasil memotivasi dan meningkatkan partisipasi masyarakat, menciptakan landasan untuk keberhasilan pelaksanaan Rencana Aksi warga. ESP dan Watsan Action/Yayasan Tirta Lestari akan terus memerikan dukungan teknis kepada komunitas ini dalam pelaksanaan Rencana Aksi mereka sekaligus dalam hal monitoring dan evaluasi.
Endah Shofiani, ESP Jakarta