Medan. Sudah setahun terakhir ini, ESP mendampingi masyarakat Desa Sampe Raya dan Timbang Lawan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara dalam hal pertanian ramah lingkungan. Dibandingkan kabupaten lain di Sumatera Utara, Langkat termasuk salah satu wilayah yang mempunyai potensi sumber daya alam yang sangat besar. Kekayaan alam Taman Nasional Gunung Leuser menjadi tumpuan kehidupan masyarakat desa yang berada disekitarnya. Belum lagi potensi alam yang bisa dikelola menjadi lokasi pariwisata, termasuk konservasi orangutan dan aliran sungai yang jernih kini dikenal sebagai tempat favorit untuk kegiatan cubbing (sejenis permainan air yang menggunakan ban).
Tanggal 21 Desember 2008, Desa Sampe Raya dikejutkan oleh kedatangan seperangkat alat pencacah kompos dan uji analisis kadar N, P, K tanah sawah yang dikirimkan oleh Dinas Pertanian Sumatera Utara kepada kelompok SLA ”Pakam Lestari”. Peristiwa ini menjadi hal yang menarik, karena selama ini segala bantuan yang berasal dari Dinas Pertanian untuk desa tersebut selalu diberikan kepada kelompok-kelompok tani yang terdaftar di Dinas Pertanian.
Semua berawal dari kegiatan pelatihan perbanyakan tanaman secara vegetatif (okulasi) untuk anggota Pakam Lestari sesuai perencanaan desa yang mereka susun selama Sekolah Lapangan. Salah satu narasumber pelatihan adalah Abdullah Rauf, seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) yang juga ketua Forum DAS Wampu. Dari hasil pertemuan dan diskusi dengan para petani, Rauf tersentuh melihat semangat masyarakat mencacah batang jerami dan jagung dengan memakai parang dan peralatan seadanya. Dia pun berinisiatif mengajukan proposal ke Dinas Pertanian untuk penyediaan mesin pencacah kompos sehingga petani dapat memproduksi kompos dalam jumlah banyak untuk memenuhi kebutuhan pupuk mereka.
Untuk memaksimalkan penggunaan mesin pencacah kompos ini, para petani membentuk kepengurusan yang berasal dari Sampe Raya dan Timbang Lawan, lengkap dengan peraturan penggunaan alat. Mereka sepakat alat ini boleh dipakai oleh semua petani di dua desa tersebut, asalkan mereka mematuhi peraturan yang ditetapkan pengurus.
Semakin banyak petani yang membuat kompos dan menggunakannya di ladang masing-masing semakin besar kemungkinan petani terlepas dari ketergantungan terhadap pupuk kimia yang harganya makin mahal. Syamsiah, salah satu anggota ”Pakam Lestari” mengatakan, ”Harga pupuk sangat mahal dan susah didapat, dan itu pun harus berebut dulu dengan sesama teman. Lagi pula, penggunaan pupuk dan pestisida kimia bisa menyebabkan penurunan kadar kesuburan tanah.”
Dengan mesin pencacah kompos yang baru, para petani Sampe Raya dan Timbang Lawan kini membuka lembaran baru kehidupan mereka. Sebuah kehidupan dengan kegiatan pertanian yang tidak hanya ramah lingkungan tapi juga meningkatkan kesejahteraan.
Naomi Ginting, ESP Sumatera Utara