Tujuh desa di Magelang bersiap meningkatkan taraf kehidupan melalui budidaya bambu. Dimulai dengan sebuah pelatihan pemandu dan Sekolah Lapangan selama 12 pertemuan.
Yogyakarta. Sedikit orang yang tahu tanaman bambu menyimpan begitu banyak manfaat. Salah satunya yang mungkin paling dikenal adalah ketika batang tanaman ini dipakai sebagai “bambu runcing”, senjata merebut kemerdekaan oleh pejuang Indonesia. Namun kini pesona bambu sudah pudar, populasi dan pemanfaatannya pun sudah berkurang.
Lebih dari sekedar pengganti kayu, secara ekologis bambu adalah tanaman yang bisa dipanen setiap saat karena rumpunnya tumbuh sepanjang tahun. Tanaman ini juga dikenal “bandel” karena sanggup tumbuh di lahan-lahan kritis termasuk tanah yang kemiringannya terjal dan berbatu.
Sebagai salah satu usaha untuk mempertahankan populasi bambu sekaligus mengembangkan kegiatan budidayanya, ESP Jawa Tengan dan Yogyakarta bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat Sahabat Bambu mengadakan Sekolah Lapangan bertema “Pengembangan Potensi Desa melalui Sistem Pengelolaan dan Pemanfaatan Bambu secara Terpadu” di tujuh desa di Kapubaten Magelang, yaitu desa Citrosono, Tlogorejo, Tirto, Seloprojo, Ngargomulyo dan Gulon.
Sebelum Sekolah Lapangan dimulai, diadakan pelatihan untuk para pemandu desa di Desa Citrosono pada tanggal 2-3 Juli dan 25-26 Juli.
Di desa-desa Magelang ini, bambu sudah lama tumbuh dan dimanfaatkan warga. Ada yang dijadikan bahan bangunan, keranjang atau furnitur. Sayangnya, pemanfaatannya belum maksimal. Pohon-pohon bambu itu juga tumbuh seadanya tanpa perawatan yang memadai.
Tahap pertama pelatihan pemandu membahas tentang latar belakang tanaman bambu, potensi pengembangan budidaya, masalah-masalah seputar penanaman dan perawatan dan cara-cara mengelola panen bambu yang baik. Juga dibahas tentang kearifan lokal di beberapa tempat seperti syarat menebang bambu yang disesuaikan dengan musim, dan bagian-bagian bambu yang pantang untuk ditebang. Tahap kedua pelatihan membahas pengelolaan bambu, mulai dari pembibitan, pengelolaan rumpun, perawatan tanaman, sampai cara panen.
”Saya baru mengerti kalau bambu itu bisa dibudidayakan dan bermanfaat bagi konservasi,” kata Sutarji, 35 tahun. Warga Desa Argomulyo ini sudah lama mengetahui bahwa tanah di sekitar rumpun bambu subur dan bisa menjadi tempat bercocok tanam yang baik. ”Melalui pelatihan ini saya tahu kenapa tanah itu jadi subur. Karena di sekitar akar-akar bambu hidup sejenis bakteri dan jamur yang membantu proses pelapukan unsur organik yang menurunkan kadar kesuburan tanah,” kata Sutarji.
Ulsin, 30 tahun, peserta pelatihan untuk pemandu dari Desa Tlogorejo bahkan sudah memiliki rencana untuk mengajak teman-temannya di desa menambah penghasilan melalui budidaya bambu. ”Selama ini tanaman bambu dibiarkan tumbuh begitu saja di desa saya. Padahal, perawatannya mudah dan panen yang dihasilkan dapat menambah penghasilan kami. Sahabat bambu sudah berencana memasarkan batang-batang bamu hasil panen nanti ke Yogyakarta,” kata Ulin.
Kegiatan pelatihan ini dilanjutkan dengan kegiatan Sekolah Lapangan di masing-masing desa yang dilaksanakan dalam 12 kali pertemuan.
Arief Budi Sulistya, ESP Yogyakarta/Jawa Tengah