Jejak Pelatihan Sampah Menyejahterakan Aceh Jaya
Published Date: October 22nd, 2008


Pelatihan awal yang hanya diikuti 20-an peserta, ternyata mampu membangkitkan semangat wirausaha di Kapubaten Aceh Jaya. Lingkungan bersih, pendapatan pun meningkat

Photo credit: Sari Wattimena  Photo caption: Rp 1 juta dan terus bertambah. Kelompok pengelola Sampah di Desa Jabi terus meningkatkan kulaitas kreasi mereka agar penghasilan pun terus bertambahBanda Aceh. Pelatihan program pemanfaatan sampah di Kabupaten Aceh Jaya yang diadakan ESP bulan Desember 2007 lalu berakhir tanggal 18 Agustus 2008. Dengan jumlah peserta awal pelatihan 20-30 orang, pelan tapi pasti peserta berhasil menularkan keterampilan baru mereka dalam mengolah sampah menjadi kerajinan tangan ke warga lainpenduduk, program ini dapat dikatakan berhasil mencapai targetnya.

Kreasi yang dihasilkan pun bermacam-macam, mulai dari aksesoris, tas, taplak meja, sampai. miniatur rumah adat. Sampah yang diolah juga makin bervariasi. Jika di awal pelatihan mereka hanya mengolah sampah plastik, kini sejumlah kelompok bahkan sudah mengolah daun kering dan bungkus rokok menjadi kerajinan yang menawan.

“Setelah terampil mengolah sampah, tugas kami sekarang menularkan kemampuan kami kepada siapa saja yang mau belajar,” kata Rizamiyana, anggota kelompok pengrajin sampah berbasisi masyarakat di Desa Laegun.

Dua manfaat utama yang terasa dari program pelatihan dan pendampingan selama delapan bulan ini adalah perbaikan kondisi lingkungan hidup dan peningkatan pendapatan di kalangan peserta pelatihan. Cut Nurleni, misalnya, mengaku kelompok pengrajinnya bisa mendapat tambahan penghasilan sekitar Rp 2 juta sebulan dari hasil menjual aneka kerajinan dan suvenir dari sampah plastik.

Munizar, 20 tahun, dari Desa Paya Peunaga bahkan membuktikan sampah plastik di kampungnya berkurang sampai 80 persen. Karena, untuk menjaga pasokan sampah plastik bagi kegiatan daur ulangnya tetap tersedia, Munizar sekarang mengorganisir pengumpulan sampah di sekolahnya untuk dibawa pulang dan diolah bersama teman-temannya.

“Sampah yang dulu dianggap barang kotor kini ibarat emas. Saya sekarang bahkan tak segan tidur di dekat sampah plastik. Tentunya yang sudah dibersihkan,” kata sisiwi kelas 3 SMEA ini.

Semangat ibu-ibu di Desa Jabi, nampaknya dapat mewakili hasil dari pelatihan pengelolaan sampah ini. Di kelompok pengolah sampah yang terdiri dari 30 orang, rata-rata penghasilan yang mereka dapat mencapai Rp 1 juta setiap bulan. “Dari tidak tahu menjadi tahu, dari bingung menjadi terampil. Kami sangat berharap ESP satu hari nanti datang lagi ke desa kami membawa pelatihan yang tak kalah bermanfaatnya,” kata Rukayah, salah satu anggota kelompok.

Sari Wattimena, ESP NAD

pixelstats trackingpixel



PREVIOUS ARTICLES