Budaya Masa Lalu untuk Masa Depan Lebih Baik
Published Date: September 3rd, 2008


Dengan aron, warga Puangaja tidak hanya saling tolong menolong, tapi juga menyelamatkan mata air yang menjadi sumber kehidupan banyak orang

Dari limbah jadi berkah. Sejumlah anggota Latersia sibuk mengolah limbah organik menjadi kompos yang menyuburkan tanaman kakao milik merekaMedan. Aron yang dalam bahasa Karo berarti gotong royong, adalah bagian dari kebudayaan masyarakat Karo, Sumatera Utara yang sudah berlangsung turun temurun. Konsep aron mewajibkan seseorang membantu tetangga atau kerabat yang sedang membutuhkan tenaga untuk membangun rumah atau memulai berladang, misalnya. Si penolong akan mendapat imbalan atas bantuan yang dia berikan berupa balasan uluran tenaga dari para tetangga saat dia membutuhkan. Sayangnya, waktu dan perubahan pola kehidupan, pelan-pelan mulai mengikis kebiasaan yang kaya manfaat ini.

Latersia, kelompok Sekolah Lapangan di Desa Puangaja, Kabupaten Deli Serdang, mencoba membangkitkan kembali kebiasaan aron. Pada bulan April 2008, sekitar 15 orang anggota Latersia memutuskan memulai aron dengan membuat kompos bersama-sama. “Kami melaksanakan aron kompos agar terbebas dari belenggu bahan-bahan kimia,” kata Nd Ari, 32 tahun, ketua Latersia. Asal tahu saja, untuk menyuburkan ladang mereka, para petani di Puangaja lebih mengandalkan pupuk kimia yang harganya mahal dan seringkali jarang tersedia di pasar.

Ide membuat aron kompos muncul ketika anggota-anggota Latersia mengikuti Sekolah Lapangan membahas cara-cara mudah dan hemat untuk menanam pohon cokelat. Menurut Ari, kesepakatan aron yang baru membuat mereka lebih semangat mengelola lahan, apalagi mendapati fakta bahwa ladang-ladang mereka sebagian besar berada di kawasan daerah tangkapan air yang sangat penting untuk dilindungi.

Lihat saja yang dilakukan oleh Dasmaria boru Sitepu, 23 tahun. Sejak tiga bulan terakhir, Dasmaria punya kebiasaan baru mengumpulkan limbah rumah tangga. “Bayangkan, dalam dua minggu ini saja saya berhasil mengumpulkan tiga ember limbah cair rumah tangga seperti air cucian beras, air kelapa dan air sisa makanan,” katanya.

Setelah semua anggota Latersia mengumpulkan masing-masing satu ember limbah cair, yang disebut juga juga dengan lau-lau, proses kompos pun dimulai. Limbah didiamkan selama dua minggu sebelum dicampur dengan bahan-bahan lain seperti daun kering, kulit buah kakao, dan batang-batang pisang. Setelah satu sampai dua bulan, kompos tersebut siap dipakai Dasmaria untuk menyuburkan tanaman kakao milik kelompok taninya.

Kegiatan aron kompos adalah salah satu cara yang ditempuh Latersia agar organisasi ini terus memiliki kegiatan rutin yang bisa diikuti seluruh anggota. Untuk membuat kompos, misalnya, dilakukan dua minggu sekali secara bergiliran di lading-ladang anggota Latersia. Dan ketika berkumpul, mereka tidak hanya sekedar membuat kompos, tapi berdiskusi tentang berbagai hal, termasuk cara mengelola kebun kakau yang baik dan usaha-usaha untuk memperkuat kelompok Latersia agar kesejahteraan anggotanya meningkat. Selain aron kompos, masih ada lagi aron-aron lain yang siap dikembangkan Latersia seperti aron pemangkasan yang bertujuan memangkas batang-batang kakao secara rutin agar buah cepat tumbuh.

Puangaja, adalah satu dari sembilan desa yang difasilitasi oleh ESP di Sumatera Utara. Desa berpenduduk 100 kepala keluarga ini posisinya menjadi penting karena menjadi salah satu dari dua wilayah tangkapan air untuk dua juta warga Medan. Tepat di lereng Desa Puangaja, terdapat mata air yang dimanfaatkan PDAM Tirtanadi untuk distribusi air ke Medan. Dengan melindungi alam Puangaja, tidak hanya daerah tangkapan air yang terlindungi, tapi kehidupan ekonomi masyarakatnya akan lebih baik. Dan Latersia sudah memulainya lewat aron kompos.

Ridahati Rambey, ESP Sumatera Utara

pixelstats trackingpixel



PREVIOUS ARTICLES