Sambil menikmati keindahan alam pedesaan, 30 jurnalis mengamati kehidupan masyarakat dan usaha-usaha yang mereka lakukan untuk menyelamatkan mata air tumpuan hidup
Bandung. R. Teja Wulan, seorang koresponden kantor berita Voice of America (VOA) untuk wilayah Jawa Barat tak dapat menyembunyikan kegembiraaannya saat berkunjung ke mata air Cikareo di Desa Cibogo, Lembang, Bandung Barat. “Menyenangkan sekali, kami datang ke sini untuk bekerja tapi dalam suasana yang rileks. Kepenatan sehari-hari hilang, tapi kami tetap dapat berita yang kami butuhkan,” kata jurnalis yang akrab disapa Wulan ini.
Bersama 30 jurnalis cetak dan elektronik lainnya, tanggal 16 Juli 2008 lalu Teja mengikuti kegiatan kunjungan media ke Cikareo sebagai bagian dari program Multi Media Campaign ESP ke-13 bertema “Konservasi Sumber Air Baku Jawa Barat”. Di area yang menjadi lokasi program perlindungan mata air sistem zonasi ESP ini, mereka mendapat akses yang luas untuk berinteraksi langsung dengan sejumlah narasumber yang berkompeten dalam hal konservasi sumber air baku, mulai dari pejabat PDAM sampai warga sekitar mata air.
Interaksi para jurnalis dengan warga menjadi salah satu pemandangan menarik hari itu. Sejumlah narasumber, baik warga setempat menjadi incaran para jurnalis untuk dimintai pendapat dan keterangan mengenai kondisi air dan sanitasi di wilayah mereka.
Nurlela, Marwan, dan Ridwan, tiga orang peserta Sekolah Lapangan turut menjadi narasumber bagi para jurnalis. Dengan lancar, mereka menjelaskan kondisi mata air Cikareo yang debitnya makin hari makin turun.
Menurut Ridwan, warga Desa Cikole, sistem zonasi di wilayah sekitar mata air dan pembuatan sumur resapan adalah langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga keberadaan mata air yang saat ini kondisinya semakin kritis. “Karena alih fungsi lahan, penebangan hutan dan pencemaran air akibat limbah ternak, mata air di dusun kami lama-lama bisa habis. Sudah saatnya semua pihak bergerak bersama menyelamatkan sisa-sisa mata air yang ada,” katanya dengan bijaksana.
Selain menerapkan sistem zonasi untuk melindungi mata air, Ridwan dan kawan-kawan juga melakukan sejumlah kegiatan konservasi, termasuk memelihara pohon-pohon bambu di sekitar mata air.
“Inisiatif-inisiatif lokal seperti ini yang terkadang luput dari pengamatan kita,” kata Wulan. Menurutnya, melalui kegiatan kunjungan media, informasi dari masyarakat dapat terserap dengan baik dan didiseminasikan dengan cepat untuk perbaikan kondisi lingkungan hidup terutama sektor air bersih.
Bambang Agus Kusyanto, ESP Jawa Barat