Melalui sebuah diskusi media, ESP mengajak wartawan melihat lebih dekat persoalan yang dihadapi sehari-hari oleh masyarakat
Yogyakarta. “Ini hal baru buat kami. Selama ini tidak ada kegiatan diskusi atau apapun namanya untuk belajar atau meningkatkan pengetahuan bagi teman-teman wartawan di sini,” kata Suyono Sugondo, Ketua Asosiasi Jurnalis Televisi Swasta (AJTS) Karesidenan Kedu, Jawa Tengah.
Koresponden METRO TV itu mengakui, wartawan yang bertugas di Kabupaten Magelang dan sekitarnya lebih banyak belajar secara otodidak. Mereka belajar di lapangan dan berhadapan langsung dengan sumber berita, tanpa punya bekal teori atau hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan seorang jurnalis.
“Akibatnya, teman-teman di lapangan, baik dari media cetak maupun elektronik, awam dengan visi dan misi seorang wartawan. Ada hal-hal yang terlupa, menjadi wartawan lebih sekedar dari mencari berita, dia juga harus berpihak kepada masyarakat,” tambahnya.
Ungkapan Suyono yang akrab disapa Mas Gondo itu, menanggapi sekaligus menyemangati rekan-rekannya yang hadir dalam diskusi media bagian dari Multi Media Campaign ESP ke-12 bertema “Akses Air Bersih bagi Warga Miskin”. Diskusi yang diselenggarakan ESP Yogyakarta-Jawa Tengah itu diikuti wartawan cetak dan elektronik di Kabupaten Magelang, Jumat, 9 April 2008.
Dalam diskusi bertema “Advokasi Media terhadap Problem Akses Air Bersih bagi Warga Miskin” itu, Suyono Sugondo menjadi pembicara bersama Budi Sumantri, Kepala Seksi Pengembangan Sumber daya Air (PSDA) dan Pembangunan Bidang Pengairan, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Magelang.
Budi Sumantri memaparkan hingga saat ini belum semua desa di Kabupaten Magelang mendapat akses air bersih. Dari total 371 desa, hanya sekitar 30% yang terlayani air bersih. Sebuah ironi mengingat potensi air di Magelang sangat melimpah.
“Di Magelang, terdapat 52 mata air besar dengan debit 8.284 liter per detik, yang dimanfaatkan hanya 923 liter per detik, sehingga sisa debit yang 7.361 liter per detik terbuang sia-sia, mengalir melalui sungai ke laut selatan,”ujarnya.
Menurut Budi, hal ini disebabkan sejumlah faktor termasuk biaya membangun infrastruktur sanitasi dan air minum yang mahal dan belum dijadikannya penanganan air bersih dan sanitasi sebagai prioritas kerja oleh pemerintah Kabupaten Magelang.
Ali Subchi, wartawan dari Harian Sore Wawasan, Ali Subchi mengatakan, diskusi yang digelar ESP sangat bermanfaat karena tema-tema yang diangkat adalah persoalan-persoalan aktual yang dialami masyarakat terutama warga miskin.
“Diskusi semacam ini juga mendekatkan jarak wartawan dengan masyarakat. Kita jadi tahu ternyata masih banyak masyarakat yang belum terlayani oleh pemerintah. Misalnya saja persoalan akses air bersih,”katanya.
Yudi Wijanarko, ESP Yogyakarta/Jawa Tengah