Banyak orang menganggap pengarusutamaan jender sekedar meningkatkan peran perempuan dalam kegiatan sosial. ESP sedang berusaha mencari cara untuk mengubah anggapan ini.
Jakarta. Berita buruk itu datang satu hari ke Posyandu di Desa Mekarjaya, salah satu wilayah kerja ESP di Jawa Barat. Pemerintah memutuskan akan menghentikan bantuan makanan tambahan berupa susu dan bubur kacang hijau ke Posyandu itu. Padahal, makanan tambahan adalah daya tarik utama yang membuat para ibu mau datang untuk memeriksakan kesehatan anaknya.
Agar makanan tambahan tetap tersedia, para petugas Posyandu rela patungan dan membelinya sendiri. Setelah beberapa waktu, salah seorang dari mereka memutuskan membawa masalah makanan tambahan ini ke forum rapat desa yang didominasi kaum laki-laki Mekarjaya. Dia berharap para bapak sadar bahwa beban membeli makan tambahan harus ditanggung bersama oleh penduduk desa, laki-laki dan perempuan. Usulan petugas posyandu ternyata diterima peserta rapat dan di akhir pertemuan, kelurahan Mekarjaya setuju untuk menanggung biaya membeli makanan tambahan untuk Posyandu.
Apa yang dilakukan petugas Posyandu itu adalah contoh manfaat dari dimasukkannya konsep pengarusutamaan jender ke dalam implementasi program ESP yang mampu memberdayakan perempuan di lokasi-lokasi kerja ESP.
“Sebenarnya pengarusutamaan jender sudah menjadi bagian dari cetak biru ESP sejak awal,” kata Alifah Lestari yang, bersama Nona Pooroe Utomo, ditunjuk menjadi kordinator nasional kelompok kerja jender ESP yang terdiri dari koordinator-koordinator regional dari kantor ESP di seluruh Indonesia.
Menurut Nona Pooroe Utomo, implementasi wacana kesetaraan jender menghadapi sejumlah hambatan di lapangan. “Ketika masyarakat akan mengadakan acara tanam pohon, yang terlibat aktif hanya kaum laki-laki. Yang perempuan hanya sebatas menyediakan makanan saja. Sama dengan kegiatan Posyandu. Laki-laki enggan terlibat karena menganggap itu memang urusan perempuan,” kata Nona.
“Pengarusutamaan jender adalah sebuah pekerjaan yang masih berproses,” kata Nona. “Kita akan terus memantau bagaimana wacana ini diterima dan pada akhirnya diterapkan di lapangan.”
Primatmojo Djanoe, ESP Jakarta