Warga Desa Bumiayu menanam bambu agar air terus mengalir di sungai dan lingkungan mereka tetap hijau
Yogyakarta. Sejak 12 tahun lalu masyarakat Desa Bumiayu, sebuah desa di lereng Gunung Sumbing, Magelang menggunakan air yang tercemar untuk kebutuhan sehari-hari karena mata air Sigethuk yang menjadi sumber air berada di tengah-tengah lahan pertanian tanpa memiliki bangunan penangkap air untuk melindungi mata air dari pencemaran. Hasilnya, air di sekitar Sigethuk meresap dengan bebas ke dalamnya. Tak heran, sakit perut dan diare adalah dua penyakit yang paling sering menyerang warga.
Bulan Desember 2006, peserta Sekolah Lapangan ESP berusaha melindungi Sigethuk dengan membangun tanggul permanen sekaligus menanam aneka tanaman pelindung seperti pohon aren (pinnata Merr) dan gayam (Inocarpus edulis Forst) di sekitar area sumber air.
Kegiatan menanam pohon bambu juga menjadi agenda warga Bumiayu agar Sungai Tangsi tetap mengalir sepanjang tahun. Tanaman ini dipilih karena tumbuh merumpun dan akarnya yang kuat, sebuah kondisi yang mampu melindungi bantaran sungai dari bencana tanah longsor.
Sebelum proyek penghijauan dimulai, diadakan pelatihan budidaya dan pemanfaatan bambu dengan narasumber dari organisasi Mangrove Action Project (MAP). Pelatihan ini mengajarkan para peserta pelatihan cara-cara menanam dan merawat bambu yang benar, serta meningkatkan nilai ekonomi dari tanaman mereka, seperti belajar membuat furnitur bambu dengan memanfaatkan batang pohon bambu.
Amin, salah satu peserta pelatihan bambu mengatakan, dia tidak pernah menanam bambu karena tanaman itu sudah ada di desanya sejak dulu. “Setelah saya tahu nilai ekonomi bambu dan cara menanamnya dengan benar, sekarang saya akan merawat tanaman bambu saya dengan baik,” kata Amin.
Saat ini, terdapat sekitar 1.000 bibit bambu di Bumiayu, mulai dari jenis Betung (Dendrocalamus asper), Columbia ( Guadua angustifolia) dan India (Bambusa balcoa). Bambu yang dulu disepelekan, kini menjadi senjata andalan warga Bumiayu untuk melawan diare sekaligus melindungi wilayah tepi Sungai Tangsi.
Ferry Hestiningroom, ESP Jawa Tengah & Yogyakarta