Masyarakat Sukomakmur yang dulu tak peduli lingkungan, kini berjuang mendapatkan kembali kemakmuran yang pernah hilang
Yogyakarta. Tanah kering dan terlantar mendominasi pemandangan lereng Gunung Sumbing, Magelang, Jawa Tengah. Lapisan tanah di sana menipis dan siapa saja bisa melihat kerusakan lahan tengah terjadi dengan cepat di wilayah yang tahun 1990-an dikenal sangat subur. Saat itu, tanaman sayuran dan buah tumbuh sangat subur, terutama bawang putih (allium sativum). Tanaman “emas putih”, julukan penduduk setempat, ini menghasilkan pendapatan melimpah karena harganya yang tinggi di pasar. Jejak-jejak kemakmuran yang dihasilkan si emas putih bisa dilihat dari jejeran rumah permanen dan kendaraan yang dipakai penduduk. Tapi masa kejayaan emas putih kini sudah berakhir.
Masyarakat Sukomakmur kini harus menerima akibat dari perbuatan mereka di masa lalu. Karena ingin mendapatkan uang lebih banyak dari bertani sayuran, mereka menebang pohon-pohon di hutan lereng, bahkan di lahan terjal sekalipun, agar lahan pertanian makin luas. Tanaman penguat tanah ikut dibabat karena dianggap mengganggu pertumbuhan tanaman sayuran dan buah dan akibatnya lapisan atas tanah tergerus oleh air hujan. Akhirnya, lapisan tanah yang tersisa tak mampu mendukung pertumbuhan akar tanaman pertanian.
Semua itu dilakukan petani untuk menyambung hidup, sayangnya usaha-usaha tersebut juga menimbulkan masalah lingkungan. Meski panen belakangan ini tidak memberikan hasil yang memuaskan, para petani tetap menolak ikut serta dalam program rehabilitasi lahan yang dilaksanakan pemerintah. Mereka tidak yakin program ini akan menghasilkan pendapatan sebesar bertani sayuran dan buah.
Tahun 2006, ESP mencoba menyelesaikan kebuntuan ini dengan melaksanakan pelatihan pengelolaan melalui teknik belajar dari pengalaman. Di program ini, masyarakat diajak menganalisis kondisi lingkungan sekitar mereka untuk diskusi-diskusi lebih lanjut. Melalui suasana belajar yang dinamis, mereka didorong membuat keputusan untuk menyelesaikan masalah lingkungan di desa mereka. Sayangnya, setelah beberapa sesi, kelas non-formal yang diberi nama Sekolah Lapangan ini tidak membuahkan hasil yang maksimal untuk meningkatkan kepedulian masyarakat. Sebagian besar petani masih menolak ikut serta dalam kegiatan rehabilitasi lahan.
“Tapi ada sebagian peserta Sekolah Lapangan yang menerapkan ilmu yang mereka dapat di lahan pertanian mereka,” kata Liswanti, salah seorang pemandu. “Saya yakin apa yang telah dipelajari akan membuka pikiran mereka. Mengajak mereka melakukan sesuatu memang membutuhkan kesabaran.”
Meski ragu akan gagal mencapai target merehabilitasi lahan sebanyak 50 hektar, masyarakat Sukomakmur perlahan mulai paham pentingnya program lingkungan hidup tersebut. Dua orang penduduk bahkan menyumbangkan lahan mereka untuk dipakai menjadi proyek percontohan di Sukomakmur. Dalam waktu satu bulan, lahan tersebut menjadi pusat belajar semua orang. Dari gubuk-gubuk bambu untuk belajar, usaha pembibitan, kandang hewan bersama sampai fasilitas pengelolaan sampah dan pembuatan kompos, semuanya dibangun untuk membantu penduduk Sukomakmur memiliki pemahaman baru tentang lingkungan sekitar mereka. Sejumlah petani bahkan sudah menyiapkan bibit untuk musim tanam mendatang. Di antara bibit ini terdapat bibit rumput gajah (pennisetum pupureum) untuk membantu proses rehabilitasi lahan kritis.
Melihat perubahan ini semua, siapapun pasti tahu, penduduk Sukomakmur kini tengah berjuang keras mendapatkan kembali kemakmuran yang pernah hilang.
Nanang Budiyanto, ESP Yogyakarta
Dulu subur sekarang tandus. Tahun 1990-an, lereng Gunung Sumbing berperan memakmurkan masyarakat sekitar, termasuk penduduk Sukomakmur
Judy Kurniawan