Yogyakarta. Bangunan sekolah masih belum selesai diperbaiki. Potongan papan, asbes, kaleng cat, dan alat-alat pertukangan masih berserakan di mana-mana. Beberapa kelas masih menggunakan tempat darurat untuk menjalankan proses belajar.
Dampak gempa bumi Mei 2006 memang masih terlihat di Sekolah Dasar Negeri 2 dan 3 Somopuro, Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah. Tapi semangat semua murid dan guru tak pernah padam. Proses belajar mengajar terus berjalan, kondisi fisik sekolahpun terus dibenahi agar suasana terasa nyaman. Salah satu hasil usaha mereka terlihat di halaman samping dan belakang sekolah. Warna hijau segar beragam tanaman tampak membentang, sejajar dengan panjang bangunan sekolah.
“Saya suka berkebun dan karenanya ingin menghijaukan sekolah,” ungkap Ibu Ngatinah, 49 tahun, guru kelas 5 yang mengaku belajar bercocok tanam yang baik dari para petani di desanya. Tanpa kenal lelah, sejak Oktober 2006 Bu Ngatinah mengajak murid-muridnya melakukan penghijauan di halaman sekolah. Lahan di sekitar sekolah yang kering dan gersang menimbulkan masalah ketika musim kemarau tiba: Debu berterbangan, pandangan mata pun terasa silau. Gerakan membuat kebun sekolah dilakukan Bu Ngatinah bersama murid-murid kelas 4, 5 dan 6. di halaman samping sekolah seluas 20 m2.
Sebagian besar bibit tanaman, dibawa Ibu Ngatinah, sedang sisanya sumbangan para murid dan orangtua mereka. Dengan tekun dan telaten Ibu Ngatinah mengajari para murid cara mengolah tanah, membuat petak sampai proses menanam dan memelihara tanaman. Untuk membangun rasa memiliki dan tanggungjawab, setiap kelas diwajibkan membuat petak tanaman yang akan ditanami dan dikelola oleh para murid kelas tersebut. Menurut Bu Ngatinah, akhir tahun 2007 akan diselenggarakan lomba kebun antarkelas untuk memilih kebun mana yang paling hijau dan terpelihara dengan baik.
Manajemen sampah yang baik juga tengah dikembangkan di sekolah ini – dan kebiasaan buang sampah sembarangan sedikit demi sedikit dikurangi – melalui kreasi tempat sampah warna-warni. Para murid membuat tempat-tempat sampah ini dari kardus bekas yang telah dibersihkan. Selanjutnya, kardus-kardus ini dilapiss kertas kado warna-warni dan diberi label ”sampah organik” dan ”sampah anorganik”.
Tempat-tempat sampah berwarna cerah ini ternyata tidak hanya bermanfaat tapi juga menjadi dekorasi yang menarik di teras kelas. Kreativitas keluarga SD Somopuro 2 dan 3 nampaknya akan terus berkembang seiring dengan meningkatnya pemahaman mereka akan pentingnya lingkungan sekolah yang bersih dan hijau.
”Mengubah perilaku murid dan guru harus dilakukan secara perlahan dengan penuh kesabaran. Mereka punya sifat dan budaya berbeda-beda yang dibawa dari rumah” ungkap Bu Ngatinah sambil tersenyum.
(Oni Hartono dan Nanang Budiyanto, ESP Jawa Tengah)